Jakarta, Kemendukbangga/BKKBN, sibernas.id – Sebagai hasil dari penurunan angka kelahiran dan peningkatan angka harapan hidup dalam beberapa dekade terakhir, Saat ini Indonesia mengalami peningkatan proporsi penduduk usia produktif atau bonus demografi, dengan angka ketergantungan yang menurun menjadi 44 pada tahun 2022 dan proporsi penduduk usia produktif yang mencapai 70% dari total populasi, Pemerintah terus merumuskan kebijakan kependudukan agar bonus demografi dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan oleh Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) Nopian Andusti, SE, MT saat membuka kegiatan “Kick off Bulan Pemetaan TAMASYA Serentak” secara daring bertempat di Kantor Kemendukbangga/BKKBN yang ditayangkan langsung melalui akun Youtube Channel @Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN pada Rabu 26/03/2025.
Pada kesempatan ini Nopian juga menyampaikan, “Sebagai bagian dari upaya strategis tersebut, Kemendukbangga/BKKBN menggagas program Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA). Program _Quick Win_ ini hadir untuk memastikan praktik pengasuhan anak yang positif dapat senantiasa dilakukan di Tempat Penitipan Anak (TPA)/ _daycare_ dan diharapkan dapat menjawab isu kerentanan keluarga. TAMASYA bertujuan untuk memberikan layanan pengasuhan yang terintegrasi, sehingga orang tua khususnya ibu yang bekerja tetap dapat produktif tanpa rasa khawatir karena anak-anak mereka tetap mendapatkan pengasuhan optimal.
TAMASYA memiliki empat layanan yaitu: peningkatan kompetensi pengasuh di tempat penitipan anak, pemantauan tumbuh kembang anak secara periodik, peningkatan keterlibatan orang tua dalam pengasuhan anak, dan layanan rujukan bagi anak”.
Dirinya mengatakan, “Untuk memastikan efektivitas program TAMASYA, Kemendukbangga/BKKBN akan melakukan pemetaan data potensi Tamasya dari kurang lebih 10.026 TPA yang ada di seluruh Indonesia. Pemetaan ini bertujuan untuk mengumpulkan data secara lebih akurat mengenai kondisi setiap TPA guna mendukung implementasi program TAMASYA secara lebih tepat”, ujarnya.
Nopian menginformasikan, “Sebagai langkah awal, Kemendukbangga/BKKBN akan menggelar Bulan Pemetaan TAMASYA Serentak yang berlangsung dari 14 April hingga 14 Mei 2025. Kegiatan ini diawali dengan acara _Kick-off_ Bulan Pemetaan TAMASYA Serentak pada hari ini 26 Maret 2025 dan sekaligus menyosialisasikan program TAMASYA kepada Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah, mitra kerja, sektor swasta, dan Masyarakat. Melalui Bulan Pemetaan TAMASYA serentak, diharapkan akan tersedia data yang akurat dan terkini dan program TAMASYA dapat tersosialisasikan kepada mitra kerja, serta tercipta sinergitas dan kolaborasi antara berbagai pihak terkait”, ungkapnya.
Nopian berharap, “Dengan adanya program TAMASYA dapat meningkatkan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan di sektor formal, menjaga angka TFR tetap stabil, dan meningkatkan Indeks Pembangunan Kualitas Keluarga”.
Pada kesempatan ini hadir juga Direktur Bina Ketahanan Balita dan Anak Kemendukbangga/BKKBN dr. Irma Ardiana, MAPS yang menambahkan, “Bahwa ada sekitar 10.000 TPA yang sudah di _share_ datanya baik itu dari Kementerian Sosial, kemudian dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sekitar 2400, Kementerian Tenaga Kerja sekitar 7000an, jadi ini kita himpun dan akhirnya kita bisa mendapatkan data TPA _by name by address_ jumlahnya sekitar 10.000″.
“Nah sementara kita juga sudah mendapatkan dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) hampir 3000 dari TPA yang dia sudah memiliki ijin di BKPM, tetapi kita belum melakukan sandingan data dengan data-data 10.000 yang sudah kita kumpulkan sebelumnya. Jadi pada kesempatan ini, kami ingin menyampaikan seperti apa mekanisme atau proses bisnis bulan pemetaan TAMASYA yang kita lakukan secara serentak”, tambah Irma.
Penulis: Wulanda
Editor: Ade Anwar